Mengenal Wae Rebo, Sejarah Pelarian Pemuda Minang di Flores

Flores memiliki sebuah kampung di ketinggian lebih dari 1000 mdpl yang bernama Wae Rebo. Julukannya adalah Kampung di Atas Awan dan sudah menjadi salah satu warisan budaya dunia sejak tahun 2012.

Lokasi Wae Rebo ada di daerah Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Desa yang konon sudah ada sejak 1.080 tahun silam memiliki pesona menarik dan sejarah panjang yang mencengangkan.

Sejarah Singkat Kampung Wae Rebo

Kampung di Atas Awan tersebut memiliki sejarah yang tidak biasa. Sebab, Wae Rebo yang letaknya ada di Flores ternyata memiliki hubungan erat dengan pemuda asal Tanah Minang.

Bagi yang bertanya-tanya kenapa, berikut rangkuman asal-usul Wae Rebo sebagai jawabannya:

Lihat juga: Labuan Cermin dari Kalimantan Timur

  • Diawali oleh Pemuda Bernama Maro dari Tanah Minang

Menurut legenda, Maro adalah seorang pemuda yang pintar dan penuh karisma. Dia tinggal di salah satu daerah di Minangkabau dan memiliki kebiasaan mengadu kerbau.

Suatu hari, kerbau yang dimiliki Maro mengalahkan kerbau lain yang menjadi lawan. Apesnya, lawan Maro tidak mau menerima kekalahan karena merasa bahwa Maro bermain curang.

Pemilik kerbau yang menjadi lawan Maro berusaha menghasut warga setempat. Hasutan tersebut berhasil dan akhirnya Maro terancam mendapat hukuman keras yaitu dibunuh.

  • Maro Pergi dari Desa dan Berlayar ke Arah Timur

Ancaman pembunuhan yang didapat oleh Maro, membuatnya ketakutan hingga memutuskan untuk kabur dari desa dan berlayar sejauh mungkin ke arah timur. Tanpa sepengetahuan warga, ia pergi demi keselamatannya sendiri.

Daerah awal yang menjadi pemberhentian Maro adalah Sulawesi. Lalu, dia memutuskan untuk berlayar lagi hingga sampai di Flores. Setibanya di Flores, dia tinggal di wilayah yang bernama Nanga Paang. Berawal dari situlah, Maro memulai hidup nomadennya di Flores.

  • Maro Hidup Berpindah-Pindah Tempat di Flores

Daerah selanjutnya yang menarik perhatian Maro adalah Desa Todo. Desa tersebut berada di kawasan pegunungan. Tadinya, Maro akan dipilih sebagai kepala desa tetapi ia menolak dan memilih pergi ke Desa Poppo.

Bahaya datang ke Maro saat tinggal di Poppo. Dia mendapat ancaman dari penduduk desa lain yang berseteru dengan Maro. Berkat bantuan seekor luwak, Maro berhasil selamat dari kobaran api di Desa Poppo.

Kemudian, Maro berpindah ke Desa Modo dan berkenalan dengan seorang pemuda bernama Bimbang. Namun, lagi-lagi Maro berbuat masalah dan diancam akan dibunuh. Akhirnya, atas bantuan Bimbang, ia kabur ke Golo Damu.

  • Maro dan Istrinya Mendapat Kutukan

Saat tinggal di Golo Damu, Maro mempersunting seorang gadis. Awalnya hidup mereka baik-baik saja tetapi Maro kembali mendapat sial berupa kutukan. Kutukan tersebut yaitu setiap orang yang bermalam di rumah Maro, maka nyawanya akan hilang.

Karena merasa tersiksa oleh kutukan tersebut, mereka berdua pindah ke Desa Golo Pandu. Mereka berharap dengan berpindah tempat, maka kutukan akan hilang.

  • Maro Mendapat Sebuah Mimpi

Suatu hari di Desa Golo Pandu, Maro mendapatkan mimpi. Dalam mimpi tersebut, ia bertemu seorang utusan Kerajaan Wae Rebo. Utusan kerajaan mengabarkan bahwa Maro dan istri harus pindah ke tempat lain yang masih kosong.

Kemudian, utusan kerajaan meminta kepada Maro untuk menamai daerah tersebut dengan Wae Rebo. Atas dasar mimpinya sendiri, akhirnya Maro pindah ke dataran tinggi yang hingga kini dikenal dengan Wae Rebo.

Penduduk Wae Rebo dan Todo memiliki hubungan yang baik. Mengingat, dulunya Maro sangat dihormati di desa tersebut.

Sudah tidak penasaran lagi, bukan? Itulah sejarah Wae Rebo yang ternyata didirikan oleh orang keturunan Minangkabau. Wae Rebo memiliki rumah adat khusus yang disebut Mbaru Niang.

Anda hanya akan menemukan 7 Mbaru Niang di Wae Rebo. Bentuk Mbaru Niang adalah kerucut dengan tinggi sekitar 15 meter. Bagian dalamnya terdiri atas 5 lantai yang dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.

Kalau berniat ke sana, Anda harus siapkan tenaga yang ekstra. Sebab, lokasi Wae Rebo sangat terpencil sampai harus menembus hutan lebat yang penuh rintangan ekstrim.